Road To Ramadhan

By | June 16, 2015

Ramadhan_1

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Alhamdulillah saya bisa mengawali minggu ini dengan menulis artikel lagi. Dua minggu yang lalu adalah minggu-minggu penuh kesibukan. Kesibukan di kantor buat mempersiapkan launching program 5R. Kesibukan di rumah terutama mengasuh si kecil yang sudah beranjak 2 tahun. Semua kesibukan ini saya nikmati dan jalani dengan penuh khidmat. Dan akhirnya semua kesibukan itu membawa saya pada kebahagiaan hidup.

Mengingat beberapa hari lagi menjelang bulan Ramadhan saya jadi ingin berbagi mengenai persiapan kita menghadapinya. Bagi saya, bulan Ramadhan sejatinya adalah bulan perjuangan. Bagaimana tidak? Setiap hari kita dilatih buat menahan rasa lapar dan rasa haus. Belum lagi harus terbiasa buat bangun lebih awal dari biasanya buat makan sahur. Semua itu bila tidak dilalui dengan semangat beribadah maka jangan mengharap kita bisa melaluinya dengan gilang gemilang.

Berbicara tentang semangat ada fakta menarik tentang hal satu ini. Semangat atau bahasa kerennya willpower bisa diibaratkan sebagai reservoir atau tanki cadangan air. Jadi, kita bayangkan willpower ini ibarat segelas air. Cadangan air ini bisa menguap bahkan menghilang saat kita dihadapkan pada tantangan rutinitas hidup sehari-hari. Tantangan rutin seperti : menelusuri jalan penuh kemacetan, pekerjaan yang menumpuk, disergap berita-berita buruk yang deras mengalir. Semua itu akan menguras cadangan willpower kita.

Sayangnya willpower kita tidak bisa dibagi-bagi. Misalkan ada bagian semangat yang khusus digunakan buat menghandle pekerjaan yang menumpuk, sebagian lagi buat mengatasi kemacetan, trus sebagian lagi dikhususkan buat mengatasi masalah lain. Sayangnya tidak bisa seperti itu. Begitu otak kita terbebani dengan pekerjaan menumpuk, masalah kemacetan, berita yang bikin stress maka saat itu cadangan semangat kita menguap. Dan begitu menguap maka semangat atau tekad kita akan berangsur habis lalu menghilang. Sehingga tekad kita untuk mengisi Ramadhan seoptimal mungkin hanya menjadi hiasan dinding semata.

Agar komitmen Ramadhan kita tetap membumbung tinggi dan tidak menguap begitu saja maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :

Pertama, Hindari berita-berita negatif yang memancing emosi dan menguras pikiran. Shaum Ramadhan mengajarkan untuk menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya. Sehingga setiap waktu tidak akan terasa karena kita hanya sibuk dan terlalu dekat dengannya.

Kedua, Hindari kemacetan. Loh lalu hubungannya dengan ibadah Ramadhan apa? Ramadhan mengajarkan kita melatih kedisiplinan. Alternatifnya bisa kita siasati dengan berangkat lebih awal maka kemungkinan kecil kita akan terjebak yang namanya macet. Setiap hari kita dilatih berdisiplin buat bangun lebih awal dan berbuka pada waktu yang tepat pula. Contoh lainnya adalah sholat tepat waktu. Ibadah yang satu ini mengajarkan kedisiplinan untuk selalu always on saat menerima panggilan dari Alloh Sang Maha Pencipta.

Ketiga, Rajin berolahraga. Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa “Mu’min yang kuat lebih Alloh sukai daripada mu’min yang lemah”. Kekuatan di sini memiliki makna yang luas. Bisa kuat secara fisik, ekonomi, pengetahuan, komitmen dan keimanan. Nah dengan rajin berolahraga selain dapat mencerahkan pikiran  juga dapat membuat stamina lebih fit selama bulan Ramadhan. Olahraga yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan aktifitas di bulan Ramadhan.

Keempat, Bangun di keheningan dan bersyukur atas nikmat Alloh yang berkelimpahan. Memperbanyak bersyukur terbukti efektif memperkuat willpower (kekuatan tekad). Di antaranya bersyukur sebentar lagi Ramadhan akan menghampiri kita. Bersyukur seandainya kita ditakdirkan dapat melaksanakan shaum Ramadahan sebulan penuh. Bersyukur seandainya kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya dan tahun berikutnya lagi dan seterusnya. Studi yang dilakukan Sonya Lyubormisky di tahun 2007 menyebutkan fakta : rutin melakukan ritual bersyukur (gratitude ritual) saat keheningan pagi/fajar, terbukti membuat seseorang lebih tangguh dalam menjaga willpower.

Demikianlah, empat langkah yang patut dikenang dan dilakukan untuk menjaga semangat selama menjalankan rangkaian ibadah shaum Ramadhan tahun ini. Akhirnya saya pribadi ingin mengucapkan ; Selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan tahun ini. Semoga Alloh Yang Maha Rahman senantiasa menerima dan memberkahi ibadah kita. Aamiin.

Photo credit by : Bashar Al-Ba’noon

NOTE :
Mau update artikel-artikel mencerahkan melalui smartphone seperti yang barusan Anda baca? Langsung saja save + invite nomor WA saya di 0856 9974 568. Bagi yang invite saya akan bagikan BONUS sebuah free ebook atau audiobook. TINGGAL PILIH. Dua-duanya keren koq.