Penciptaan dari Asap Panas

By | July 21, 2015

8306916640_69b11c50c3_o

Para ilmuwan masa kini mampu mengamati pembentukan bintang-bintang dari awan gas panas. Pembentukan dari gumpalan gas panas juga berlaku pada penciptaan jagat raya. Penciptaan alam semesta sebagaimana yang digambarkan dalam ayat Al Qur’an berikut ini menegaskan temuan ilmiah tersebut :

Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian, Dia menuju  pada penciptaan langit  dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu kepadanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami  datang dengan suka hati.” (Q.S.  Fushshilat, 41 : 10-11)

Kata bahasa Arab sama’ ,  yang diterjemahkan di sini menjadi ‘langit’, mengacu pada seluruh alam semesta. Kata dukhanun untuk ‘asap; menggambarkan materi sebelum alam semesta terbentuk, yaitu asap kosmik panas yang hadir dalam penciptaan jagat raya, sebagaimana yang kini diakui oleh para ilmuwan. Kata ini dalam Al Qur’an menggambarkan asap dengan sangat akurat karena mengandung arti gumpalan gas hangat berisi partikel-pertikel bergerak yang terhubung dengan substansi padat. Di sini, Al Qur’an telah menggunakan kata yang paling tepat dari bahasa Arab untuk menggambarkan jagat raya dalam fase ini. Mari kita catat bahwa baru pada abad ke-20, para ilmuwan menemukan kenyataan alam semesta terbentuk dari gas panas dalam bentuk asap.

Selain itu, kata tsumma diterjemahkan sebagai ‘kemudian’ dalam kalimat “Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap” mengandung makna lain seperti ‘selain itu’, ‘lebih jauh’, ‘lagipula’,’sekali lagi’. Di sini, tsumma  digunakan tidak sebagai keterangan waktu, tetapi sebagai penjelasan tambahan. Fakta bahwa informasi tentang penciptaan alam semesta diberikan dalam Al Qur’an tak lain merupakan keajaiban kitab suci ini.

Langit dan Bumi

Satu ayat lagi tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut :

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka, mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S. Al Anbiya’, 21:3)

Kata ratq yang di sini diterjemahkan sebagai ‘menyatu’ digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab fataqa dan bermakna bahwa ‘sesuatu menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur yang semula menyatu’. Bertunasnya biji dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ratq ini.

Marilah kita kaji ayat ini kembali. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi pada mulanya adalah subjek dari status ratq. Keduanya lalu dipisahkan (fataqa) satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita memahami bahwa seluruh materi di alam semesta terkumpul pada satu titiik tunggal.

Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belum diciptakan, juga masih dalam keadaan menyatu dan tidak terpisah dalam titik tunggal ini. Kemudian, titik ini meledak dahsyat dan menyebabkan materi-materi yang dikandungnya terpisah.

Sumber : KEAJAIBAN AL QUR’AN Karya Harun Yahya

Credit photo by : Cuba Gallery @flickr.com

NOTE :
Mau update artikel-artikel mencerahkan melalui smartphone seperti yang barusan Anda baca? Langsung saja save + invite nomor WA saya di 0856 9974 568. Bagi yang invite saya akan bagikan BONUS sebuah free ebook atau audiobook. TINGGAL PILIH. Dua-duanya keren koq.

8 thoughts on “Penciptaan dari Asap Panas

  1. sayyid

    Assalamualaikum wr.wb,
    Dik Agus,

    kita lihat kembali uraian sdr harun yahya,
    Marilah kita kaji ayat ini kembali. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi pada mulanya adalah subjek dari status ratq. Keduanya lalu dipisahkan (fataqa) satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita memahami bahwa seluruh materi di alam semesta terkumpul pada satu titiik tunggal.

    Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belum diciptakan, juga masih dalam keadaan menyatu dan tidak terpisah dalam titik tunggal ini. Kemudian, titik ini meledak dahsyat dan menyebabkan materi-materi yang dikandungnya terpisah.

    Sumber : KEAJAIBAN AL QUR’AN Karya Harun Yahya

    seperti yg saya katakan dalam pembentukan alam semesta tempo hari.
    yg padu itu tidak selalu mengartikan padat.
    setelah Allah menciptakan makhluk ghaib yaitu malaikat dari cahaya dan jin dari api yg sangat panas,Allah menginginkan penciptaan makhluk nyata yaitu manusia dll, sebelum penciptaan makhluk nyata,Allah mulai dengan penciptaan bumi terlebih dahulu lantas langit.
    Alquran surat hud ayat 7.
    Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.

    dan ayat dibawah ini.
    Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui,
    bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu.
    Kemudian Kami pisahkan antara keduanya (masing-masing dibentuk-Nya).
    Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.
    Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?.”
    (QS. AL-ANBIYAA’:21:30).
    langit dan bumi pada mulanya bersal dari unsur yg satu, yaitu air (sesuatu yg cair) kemudian menjadi 2 benda yg berlainan yaitu atom dan asap(dukhan) hidrogen.
    pada awalnya kedua bahan ini ritqun (bersatu padu) kemudian terpecah(fatqun). Dari atom terbentuk bakal bumi dan dari asap(dukhan) hidrogen terbentuk bakal langit.

    tentu kita bertanya mengapa air(sesuatu yg cair) dan bukan sesuatu yg padat?(seperti kesimpulan sdr harun yahya).
    sebelum penciptaan langit dan bumi, Allah telah menciptakan malaikat dan jin dahulu dengan suhu yg amat panas.
    “Kabut alam semesta” itu sendiripun terdiri dari segala materi lahiriah-nyata-fisik penyusun seluruh alam semesta ini, dalam bentuk ‘uap’ dari unsur terkecilnya (‘Atom’). Atom juga adalah bentuk setiap materi-benda dalam keadaannya yang paling panasnya. Dan seluruh Atom di alam semesta ini bercampur-baur, bertumbukan dan bergerak dengan amat sangat bebas dan cepat ke segala arah, akibat dari adanya “energi awal alam semesta” yang amat sangat panas tersebut.
    Tentu saja setiap Atom itupun tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, akan tetapi jika telah bercampur dalam jumlah yang amat sangat banyak seperti di atas, maka bentuknya akan berupa ‘kabut atau asap’. Sedang jika dilihat dari dekat, asap atau kabut itupun tetap tidak terlihat mata telanjang. Secara sederhananya, “kabut alam semesta itu adalah kabut dari atom-atom gas hidrogen yang sedang terbakar”.

    Hal inilah yang dimaksud dalam surat Al-Anbiyaa’ ayat 30 di atas, tentang “masih bersatu-padunya langit dan Bumi” pada saat awal penciptaan alam semesta ini, karena Bumi, beserta segala benda langit lainnya (bintang, planet, komet, meteor, dsb) memang masih melebur dan menyatu dalam ‘suatu kabut’ (atau sama-sekali belum berwujud).
    Segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (benda mati dan makhluk hidup, nyata dan gaib) pasti berasal dari suatu ketiadaan, lalu diciptakan oleh Allah, Yang Maha pencipta dan Maha kuasa.

    harun yahya bukanlah saintis beliau hanya seorang yg suka menggembor didepan layar tv dan menyukai ramalan.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

    Reply
    1. Agus Kurnia S Post author

      Ada wawasan lain setelah baca komentar ini. Terimakasih atas paparannya.

      Bagaimana pendapat Mas tentang perbincangan hangat akhir” ini mengenai bentuk bumi apakah bulat atau datar?

      Reply
      1. sayyid

        Assalamualaikum wr.wb,
        Dik Agus,
        Sesuatu yg benar dari Allah untuk apa diperdebatkan lagi?
        Allah berfirman pada surat yasin ayat 38,
        “dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”

        bahwa matahari berputar pada porosnya.
        dan,
        surat yasin ayat 40,
        “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”

        selain berputar pada porosnya, matahari juga berputar pada garis edarannya begitu juga dengan planit-planit yg ada pada galaxi kita ini.Sangat mustahil bagi matahari mendapatkan bulan, karena bulan sendiri berputar pada porosnya mengelilingi bumi pada garis edarnya dan bersama bumi mengelilingi matahari yg menyebabkan terjadinya malam dan siang yg menunjukkan bahwa bumi benar-benar bulat.

        wassalamualaikum wr.wb,
        sayyid

        Reply
        1. Agus Kurnia S Post author

          Ada link video di Youtube mengenai rute perjalanan pesawat terbang yg masuk akal.

          Berikut linknya : https://www.youtube.com/watch?v=8UKLHNs5WT8 (Flat Earth 05 ANTARTIKA DAN BOM NUKLIR KUBAH BUMI)

          Di video ini diceritakan bagaimana mengatur rute penerbangan dari satu negara ke negara lain menggunakan peta bumi datar dibandingkan dengan peta bumi bulat. Terlihat perbedaan yg masuk akal bila menggunakan peta bumi datar.

          Reply
  2. sayyid

    Assalamualaikum wr.wb,
    Dik Agus,
    jika bumi datar gimana dengan titik beratnya? baratkah,timurkah, utarakah atau selatankah? sudah tentu bumi banyak mengalami malapetaka seperti kegoncangan dahsyat karena nggak stabil oleh karena gesekan udara.
    jika semua planet termasuk matahari di jagat raya kita bulat bukankah semustinya bumi juga bulat?
    apakah semuanya datar?

    Banyak juga orang bilang telah melihat piring terbang yaitu ufo (pesawat ruang angkasa )tetapi kenyataannya piring terbang tidak dapat menemukan stabilitas di udara.
    padahal Allah sudah sangat jelas berfirman:
    “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah
    menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit
    dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu
    nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada
    yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu
    pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi
    penerangan”.(Al Lukman ayat 20)

    manusia adalah makhluk yg istimewa yg telah Allah ciptakan.
    jadilah manusia yg istimewa.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

    Reply
  3. sayyid

    Assalamualaikum wr.wb,
    dik Agus,
    saya mengambil kembali surat fushilat yg dik agus tuliskan diatas dan sekaligus mengambil hikmahnya.

    surat fushilat ayat 9/10
    Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”.Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

    arti ayat ini sbg.
    penciptaan bumi (kadar makanan untuk penguhninya dsb beserta matahari,bulan dan planit-planit disekitar galaxi kita dalam 4 masa).
    Lantas Allah menuju ke penciptaan tujuh langit,
    surat fushilat ayat 11/12
    Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

    setelah pemisahan antara galaxi kita(bumi, matahari,bulan dan seluruh planit2) dengan tujuh langit, Allah memerintahkan kepada bumi(galaxi kita) dan tujuh langit agar mendekat karena Allah bermaksud untuk menghiasi langit pertama dengan bintang-bintang.
    ada dua pengartian langit.
    -yg pertama yaitu 7 lapisan langit pada galaksi kita surat al mulk ayat 3.
    Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

    lapisan yg ke tujuh(magnetosfir) berjarak kira-kira 30.000km dari bumi.

    -dan yg kedua yaitu tujuh langit (bima sakti) dimana langit yg terdekat dihiasi oleh Allah dengan bintang-bintang.
    surat fushilat ayat11/12.
    Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

    langit(bima sakti) yg terdekat dari ke tujuh langit (bima sakti) ini berjarak kira-kira 4.5 tahun cahaya dari bumi.
    bayangkan saja malaikat jibril menghadap Allah di atas langit yg ketujuh.
    surat al ma´arij ayat 4 yg berbunyi : Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.

    sebenarnya Allah sangat jelas dengan firmanNYA.

    wassalamualaikum wr.wb,
    sayyid

    Reply
    1. Agus Kurnia S Post author

      Asal usul alam semesta dijabarkan Al Qur’an dalam ayat berikut :

      Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al An’am, 6:101)

      Informasi ini sepenuhnya sesuai dengan temuan-temuan para ilmuwan masa kini. Sebagaimana telah dinyatakan di awal, kesimpulan yang telah dicapai astrofisika dewasa ini adalah bahwa seluruh jagat raya, berikut dimensi materi dan waktu, menjadi ada sebagai hasil dari ledakan akbar yang terjadi dahulu kala. Peristiwa ini, yang dikenal dengan sebutan “Big Bang”, merupakan katalis untuk penciptaan alam semesta dari ketiadaan. Semua pihak di kalangan ilmiah sepakat bahwa ledakan ini bermula dari sebuah titik tunggal sekitar 15 miliar tahun lalu.

      http://mengajimakna.com/2015/06/27/pembentukan-alam-semesta/

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *