Teroris Itu Bernama Rokok

By | January 19, 2016

teroris dan rokok

Hari Kamis lalu kita dikejutkan oleh sebuah kejadian di sekitar halaman parkir depan kafe Starbucks, Jalan Husni Thamrin, Jakarta Pusat. Sekitar pukul 10 pagi telah terjadi pemboman di sekitar tempat kejadian. Sontak seluruh dunia mengikuti kabar pemboman. Berbagai stasiun televisi pun ikut latah secara live menyiarkan kabar yang mengagetkan itu. Sekelompok teroris pun berhasil dilumpuhkan oleh aparat keamanan. Korban sipil dan dari pihak keamanan pun tidak bisa dihindarkan.

Namun kawan ada yang lebih berbahaya dari sekedar ancaman teroris. Teroris itu bernama rokok. Korban mati yang diakibatkan kegiatan teroris di tanah air sungguh tak ada bandingannya dibanding mereka yang gugur lantaran asap rokok yang mematikan. Kalau pelaku teror diburu hingga mati maka produsen rokok dibiarkan leyeh-leyeh di rumahnya yang megah dan bertebaran di seluruh manca negara.

Para perokok secara tidak sadar sedang digiring oleh kepulan asap maut menuju alam keabadian yang mencekam.

Dalam laporan ranking 15 perusahaan terbesar di Indonesia dilihat dari aspek net profit tahun 2015 lalu bercokol dua produsen rokok terbesar di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa rokok masih jadi primadona di negeri kita. Getir memang dibalik kepulan asap rokok itu tersimpan racun mematikan. Barang kali bencana asap di Riau beberapa bulan lalu tidak terlalu berbahaya dibandingkan kepulan asap rokok yang sehari-hari menggelayuti kesehatan paru-paru kita.

Setiap tahun sekitar 120 trilyun telah dibelanjakan oleh perokok Indonesia buat membelanjakan rokok kegemarannya. Semuanya habis tak berjejak menjadi kepulan asap. Uang sebesar 120 trilyun inilah yang dinikmati oleh para kapitalis produsen rokok.

Bagaimana kalau setengahnya saja insyaf menjadi ahli hisap? Maka uang sekitar 60 trilyun bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Anak-anak bisa membayar SPP tiap bulan. Berapa banyak ibu rumah tangga yang terselamatkan karena bisa belanja buat kebutuhan di rumah. Bagaimana kalau uang buat rokok itu ditabungkan saja buat usaha modal? Lihat, berapa banyak hal yang bisa kita selamatkan.

Yang lebih lucu lagi suatu saat ada sekumpulan anak muda Indonesia yang berdemo menentang hegemoni kapitalis Amerika, mereka berteriak-teriak sambil lahap menikmati rokok. Para kapitalis itu tertawa terkekeh-kekeh melihat kelakuan mereka. Sayangnya asap rokok itu tidak pernah mendapatkan perlawanan. Malahan dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia di antaranya adalah remaja.

Para kapitalis itu tidak hanya meraup keuntungan dari rokok. Tapi membunuh pelan-pelan. Membeli rokok seperti membeli peluru buat menembakkan ke jantung kita sendiri. Ada pecandu rokok yang terkena dampak destruktif akibat kebiasaan merokok. Dia divonis mengidap kanker paru-paru. Dokter memberi tahu bahwa hal ini terjadi akibat kebiasaan mudanya yang kecanduan merokok. Uang sebesar 50 juta rupiah telah ia keluarkan buat biaya pengobatan. Yang lebih miris lagi uang yang digunakan buat biaya pengobatannya itu adalah uang tabungan pendidikan anaknya. Uang yang semestinya dia siapkan untuk masa depan anaknya malah terrenggut oleh perilaku tidak sehatnya sendiri. Di situ saya merasa sedih banget..

Para pengamat kesehatan mengatakan biaya kesehatan para pecandu rokok atau biaya sakit akibat rokok JAUH LEBIH BESAR dibandingkan keuntungan total dari industri rokok.

Sudah saatnya para pecandu rokok tersadar akan kelakuan buruk mereka. Membiasakan hidup sehat jauh lebih murah dan nikmat ketimbang membiasakan hidup dalam kepulan asap.

Photo credit by : factslides.com

NOTE :
Mau update artikel-artikel mencerahkan melalui smartphone seperti yang barusan Anda baca? Langsung saja invite pin BBM saya : D3027B50 atau save + invite nomor WA saya di 0856 9974 568. Bagi yang invite saya akan bagikan BONUS sebuah free ebook yang sangat menarik.

Related posts :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *