Perbedaan Struktur Antara Matahari, Bulan, dan Bintang-Bintang

By | August 17, 2016

matahari bulan bintang

Dan kami bina di atas kamu tujuh  buah (langit) yang kokoh dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari). (Q.S. An Naba’, 78 : 12-13)

Sebagaimana kita ketahui, satu-satunya sumber cahaya tata surya adalah matahari. Dengan kemajuan dalam bidang teknologi, para ahli astronomi menemukan bahwa bulan bukanlah sumber cahaya, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari yang mencapai permukaannya. Istilah “pelita” dalam ayat di atas adalah terjemahan dari kata bahasa Arab siraj yang dengan tepat menggambarkan matahari sebagai sumber cahaya dan panas.

Di dalam Al Qur’an, Allah menggunakan kata-kata berbeda ketika merujuk benda-benda angkasa seperti bulan, matahari, dan bintang-bintang. Al Qur’an menyatakan perbedaan struktur matahari dan bulan sebagai berikut :

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita. (Q.S. Nuh, 71 : 15-16)

Pada ayat tersebut, kata “cahaya” digunakan untuk bulan (nur dalam bahas Arab) dan kata “pelita” untuk matahari (siraj dalam bahasa Arab). Kata yang digunakan untuk bulan mengacu pada benda tak bergerak yang memantulkan cahaya terang. Kata yang digunakan untuk matahari mengacu pada benda langit yang selalu berpijar dan menjadi sumber panas dan cahaya.

Di lain pihak, kata “bintang” berasal dari akar kata bahasa Arab najama yang berarti “tampak, muncul, kelihatan”. Seperti dalam ayat di bawah ini, bintang-bintang juga dirujuk dengan kata tsaqib yang digunakan untuk sesuatu yang bersinar dan menembus kegelapan dengan cahaya, mempunyai sumber bahan bakar sendiri, dan membara :

(Yaitu) bintang yang cahayanya menembus. (Q.S. Ath Thariq, 86 :3)

Kita tahu bahwa bulan tidak memantulkan cahayanya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima matahari. Kita juga tahu bahwa matahari dan bintang memancarkan cahaya sendiri. Kenyatan ini diungkap Al Qur’an pada zaman ketika peradaban manusia tidak memiliki cara untuk memperoleh temuan ilmiah dengan usaha sendiri. Zaman ketika pengetahuan manusia tentang benda langit sangat terbatas. Hal ini menekankan lebih lanjut keajaiban Al Qur’an.

Sumber : KEAJAIBAN AL QUR’AN karya HARUN YAHYA

Photo credit by : Romy Hoogenboom @flickr.com

NOTE :
Mau update artikel-artikel mencerahkan melalui smartphone seperti yang barusan Anda baca? Langsung saja save + invite nomor WA saya di 0856 9974 568. Bagi yang invite saya akan bagikan BONUS sebuah free ebook atau audiobook. TINGGAL PILIH. Dua-duanya keren koq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *